keluhan biasa
Well, it’s been long time since my last posting. Sebenarnya udah ada rencana untuk bikin postingan lagi, tapi postingan kali ini bukan realisasi dari rencana itu coz postingan yang gue bikin sekarang bertujuan untuk ngungkapin kekeselan gue yang baru aja terjadi sekitar beberapa menit yang lalu.
What currently happened is... gue merasa sangat tersinggung. Yah, bodo amat deh gue mau dibilang ga dewasa atau apa BODO AMAT karena gue KESEL BANGET dengan orang2 yg punya kebiasaan menyinggung perasaan orang lain dengan sengaja. Kenapa gue tau itu disengaja? Karena situasinya bukan situasi yang memungkinkan orang gak bisa ngontrol tingkah laku n ucapan. Well, it happened in library. Bayangin! Hari ini gue bersemangat banget n niat banget mau baca2 skripsi di perpus karena tugas2 n ujian udah selesai. Nah, sebelumnya gue pikir gue bakal ngenet dulu bentar di lantai 2 sebelum minjem skripsi. Kebetulan waktu itu pas jam 1 which is perpus baru buka dari istirahat jam 1. Dan gue melihat bahwa di meja registrasi untuk make internet di lantai 2, papan ISTIRAHAT masih terpampang dengan sangat jelasnya. Jadi, mengingat pengalaman2 gue n org2 di sekitar gue dengan ‘perpustakaan gue tercinta’, maka dengan penuh kesopanan gue berkata kepada bapak yg jaga “Udah bisa masuk belum, pak?” Yang berarti... (kalo ada yang merasa ambigu sama kalimat itu, biar gue jelasin nih) gue ingin memastikan jam istirahat sudah berakhir dan kalo emang belum berakhir, dengan penuh kerelaan gue akan menunggu. Dan sekali lagi, orientasi gue adalah papan yang bertuliskan kata ISTIRAHAT yang belum dibalik itu.
Lalu... bapaknya bilang apa?
Gini,
“kemaren kamu udah bisa masuk gak?” dengan –menurut gue- tampang yg jutek karena dia sama sekali gak keliatan becanda n kind of org yg lagi kehilangan kesabaran.
“maaf, pak?”
“kemarin kamu bisa masuk lewat pintunya kan?”
“...”
“...”
“oh, maksudnya... kirain belum buka, pak...(dag dig dug dag dig dug. Baca: gue mulai emosi. Tapi sebisa mungkin gue masih menunjukkan tampang yg penuh kepasrahan dan kesopanan)”
Kemudian, bapak tersebut menyuruh gue menulis nama gue di buku n mengambil KTM dy n guess what? Dy baru nyadar papan ISTIRAHAT nya masih terpampang. Trus ketika itu juga dia balik deh tuh papan.
OK, what i really wanna say (write) is.... (sebenernya guegak tega nulis ini, tapi dari tadi gue udah ngucapin ini berulang2 di dalem hati siy.karena itu gue bakal menyensor 1 huruf.
SH*T!!!!!!!!!!!!!!!
Oh my God! Gue gak akan mempermasalahkan kalo situainya emang memungkinkan orang saling menyakiti karena hectic, ribet, or memicu agresivitas. But, i’m sure he’s still able to decide what kind of words he’s going to say to me...
Dan kejadian di setting yg sama memang sering terjadi. Gue gak pernah mencoba mempermasalahkan ini karena gue pikir, mungkin gue yg harus lebih bisa beradaptasi n mengerti. Tapi sekarang... I think I’ve had enough. Dan gue juga bukannya gak bisa melihat hal2 yang positif dari orang2 ini. Tapi alangkah baiknya... Well, i know they’re just ordinary people. But so am I... Gue gak menuntut banyak kok....
That’s all.

Comments