« sebut saja suplir | Main | tentang Euro lagi »

drama, drama, n drama, during Euro 2008

10 hari sudah berlalu semenjak opening ceremony Euro 2008. Pada banyak yang ngikutin Euro, kan? Begitu juga dengan saya sebagai penggemar bola musiman yang heboh kalo ada kejuaraan-kejuaraan kayak Euro n World Cup doang. Selebihnya gak terlalu ngikutin. Hehehe… Nah, minggu ini perempat final Euro bakalan dimulai. Negara-negara yang dipastikan masuk antara lain Portugal yang bakal ketemu Jerman (hidup Portugal!), Turki yang bakal ketemu Kroasia (belum nentuin bakal bela siapa), Belanda (yang udah menjuarai grup C), dan Spanyol (yang dipenuhi oleh ‘suami-suami’ gue). Runner up grup C dan D bakal ditentukan dini hari besok dan lusa (Rabu n Kamis, 18 n 19 Juni).

OK, pada nonton pertandingan Rep. Ceko vs Turki yang ditayangin kemarin gak? Kalo nonton, mungkin orang-orang bakal setuju dengan gue bahwa pertandingan penentuan kemarin itu berlangsung dengan penuh drama, drama, drama. FYI, sebenarnya gue gak terlalu menjagokan siapapun di antara dua tim ini. Gue menganggap kemampuan dua tim gak jauh beda n gue Cuma berharap yang terbaik yang bakal lolos. Yah, tapi memang kecenderungannya lebih ke Ceko sih, karena kan ada Petr Cech (suami gue yang lain) di sana. Hehehe… Nah, kemarin pagi (Senin, 16 Juni) gue nonton di Fokus Euro kalo Portugal dan Turki berhasil lolos ke perempat final. Otomatis gue jadi tau kalo Ceko kalah karena skor Ceko (dan bahkan selisih gol) dengan Turki sama. Jadi pertandingan mereka bakal nentuin siapa yang lolos ke perempat final. Ya udah, gue juga gak kecewa-kecewa amat dengan hasil ini. Malamnya, gue dan partner of crime gue, Ratih, nonton siaran tunda Ceko vs Turki.

Sebelumnya Ratih sempet bilang ke gue kalo skor pertandingan itu 1-0 untuk Turki. Berdasarkan informasi itu, gue n Ratih pun menunggu-nunggu satu-satunya gol dari Turki ke gawang Ceko. Sampai pertengahan babak pertama, belum muncul juga tuh gol. Akhirnya, waktu babak pertama hampir berakhir, hebohh… karena ternyata gol bukan dari pemain Turki, tapi Ceko. Sambil terbengong-bengong, gue kembali nanya ke Ratih tentang skor akhir pertandingan ini dan akhirnya terbongkarlah fakta bahwa Ratih Cuma ngasal doing nyebutin skor 1-0. Sambil masih tertegun-tegun, kita lanjut nonton.

Ketika babak kedua dimulai, kelihatan kalo Turki mulai mendominasi. Rupanya ketinggalan satu poin gak membuat nyali mereka turun, justru sebaliknya. Alhasil, pertandingan jadi tambah seru n keras. Kartu kuning mulai bertebaran dimana-mana. Darah, keringat, air mata (lebai). Tapi, serius… mereka berdarah-darah. Ada 2 pemain yang kepalanya di perban. Sepanjang pertandingan Ratih n gue terus menerus mengomentari pertandingan yang penuh dengan drama drama drama ini. Belum lagi pelatih Turki yang ngomel n marah-marah mulu. Tapi ternyata, drama yang sesungguhnya belum dimulai, saudara. Kalo gak salah, di menit ke 70, Ceko kembali menambah gol dan seolah-olah memastikan kemenangan mereka ke perempat final. Gue dan Ratih kembali terbengong-bengong dan Ratih sempat mengkonfirmasi gue, apakah memang Turki yang menang di pertandingan ini, dan gue membenarkan, walaupun gue gak tau berapa skornya. Tapi, untuk menang berarti skor akhir paling gak harus 3-2, sementara waktu yang tersisa tinggal 20 menit untuk mengejar ketinggalan. Di sinilah drama dimulai.

Di hampir 10 menit terakhir, Arda Turan yang ganteng dari Turki melesakkan golnya ke gawang Petr Cech sehingga kedudukan berubah 2-1. Ternyata Turki semakin bersemangat! Sebagai muslim yang saleh, mereka terus berikhtiar dan berdoa kepada Alloh SWT sampai akhirnya usaha mereka itu membuahkan hasil. Mas Nihat Kahveci menyarangkan dua gol berturut-turut ke gawang Ceko. Keren, Mas Nihat!!!! Allohu Akbar!! Tapi kasian banget nih ama suami gue, Petr Cech. Dia benar-benar melakukan kesalahan fatal ketika berusaha mengantisipasi tendangan Nihat ke gawangnya. Bola itu udah berhasil ia tangkap, tapi… tergelincir dan akhirnya, tanpa usaha yang berarti-Cuma tinggal di dorong dikit-masuk deh tuh bola ke gawang karena Cech juga udah gak bisa prepare. Ohh, Cech… kasian banget siiii kamu….

Setelah itu, apakah drama berakhir di sini setelah Turki memastikan kemenangannya?? Tidak. Masuk additional time, kiper Turki, Volkan Demirel dihadiahi kartu merah akibat tindakan agresifnya. Bahkan, pemain Turki yang gak lagi tanding nih, di bangku cadangan, dapet kartu kuning juga gara-gara protes. Adegan paling lucu yang bikin gue n Ratih ngakak adalah ketika gelandang Turki, Tuncay terpaksa jadi kiper pengganti (OMG, ngebayanginnya aja masih bikin gue pengen ketawa). Keliatan banget dia panik, tapi juga pasrah ketika ditunjuk temen-temen satu timnya. Dia sempat menengadahkan tangannya ke atas, mungkin berdoa biar dapet pertolongan. Untungnya, Tuncay gak harus lama-lama jadi kiper. Dua menit kemudian, wasit meniup peluit yang menandakan Turki boleh merayakan kemenangan n keberhasilannya masuk perempat final. Alhamdulillah, sebagai muslim, gue pastinya ngerasa bangga dengan hasil ini. Tapi gue harus mengakui bahwa gue juga ngerasa kasian banget ama Ceko, terutama Petr Cech. Karena sebenarnya penampilan dia bagus banget di pertandingan ini. Dia berkali-kali bisa menyelamatkan gawangnya dari kebobolan. Tapi, mau gimana lagi, kekuatan doa dari Istanbul menurunkan keajaiban buat Turki. Hehe, begitulah sepenggalan drama yang terjadi di perhelatan Euro… Trims udah baca ulasan pertandingan penuh drama yang gue bawakan juga dengan penuh drama ini. Hahahaha!! Kita nantikan drama-drama lain di pertandingan-pertandingan Euro 2008 berikutnya.

Referensi: Koran Tempo edisi 17 Juni 2008 & Euro 2008 Official Site (www.euro2008.uefa.com)

                            

Comments

woi....

gw seh ya, jagoin tim suami gw laah... portugal!!

inget ya tung, kalo blanda kalah, abiz lo ma gw!!

Post a comment

Post a comment

Name:

You are currently signed in as .