« December 2007 | Main

setelah Spanyol vs Italia

Pertandingan perempat final antara Spanyol vs Italia juga jadi salah satu pertandingan yang paling berkesan buat gue di Euro tahun ini. Berkesan karena Spanyol jadi satu-satunya tim jagoan gue yang lolos ke semifinal setelah pertandingan-pertandingan sebelumnya selalu penuh dengan surprise dan drama. Hahaha… Hal lain yang bikin pertandingan ini jadi berkesan banget buat gue adalah karena: 1)Gue sempat panik dan pesimis Spanyol bakal kalah, yang ternyata gak terbukti, 2)Pemenang pertandingan ini ditentukan dengan adu penalti, dan 3)Walaupun gue Cuma nonton siaran ulang dan sebelumnya udah tau kalo Spanyol menang, gue tetap deg-degan waktu adu penalti berlangsung. 4)Ada pelajaran berharga yang gue dapet setelah nonton pertandingan ini.

Nah, yang ingin gue bahas sekarang adalah poin nomor 4. Tentang (ceritanya nih…) pelajaran berharga.

Ketika dua kesebelasan bertanding dengan hasil imbang selama 90 menit, dan perpanjangan waktu yang dilakukan tetap tidak mengubah keadaan, kira-kira kesimpulan yang bisa diambil adalah pada saat itu kedua tim memang punya kekuatan yang sama atau hampir sama dalam hal kemampuan fisik mungkin, strategi mungkin, pertahanan mungkin. Intinya kedua tim memang seimbang deh pokoknya. Nah, kalo udah begitu, kira-kira aspek apa lagi yang harus diuji untuk menentukan tim mana yang lebih kuat? Ada yang bisa jawab? Hehe… aspek mental, dong, tentunya… dengan melakukan adu penalti. Bagi gue, sebuah adu penalti bukan lagi ajang unjuk kelebihan bagi masing-masing tim. Memang, gak bisa dipungkiri kalo ketangkasan seorang kiper jadi sangat penting di sesi ini. Tapi sebenarnya ada hal yang lebih penting lagi: mental. Pemain yang biasanya selalu punya tembakan jitu aja bisa jadi loyo dan gak akurat ketika harus melakukan adu penalti. Lihat aja David Trezeguet di World Cup 2006 waktu adu penalti dengan Italia di final. Siapa sih yang nyangka seorang David Trezegol, striker andalan Prancis, bisa gagal menyarangkan bola dalam sebuah tendangan penalti? Lagi-lagi penjelasannya adalah mental. Berbeda dengan kebanyakan orang yang menganggap kalo adu penalti itu cuma untung-untungan, bagi gue tim yang udah berhasil memenangkan adu penalti adalah tim yang memang layak untuk menang karena tim tersebut udah berhasil melalui ujian kedua yang gak kalah penting: ujian mental. Inggris, misalnya, tim yang gak diragukan lagi kehebatannya, konon gak pernah menang kalo harus melalui adu penalti (gue lupa data lengkapnya). Ya, mungkin memang secara mental, Inggris masih belum lebih unggul dibandingkan lawan-lawannya.

Kembali ke pertandingan Spanyol-Italia, gue bener-bener salut sama kedua tim dan gue sangat menikmati menonton akhir pertandingan, waktu Spanyol lagi merayakan kemenangan mereka dan Italia lagi terisak-isak. Gue salut sama tim Italia yang gak saling menyalahkan walaupun dua pemainnya gagal mengeksekusi tendangan ke gawang Casillas, juga untuk sportivitas mereka. Gak Cuma di pertandingan ini aja siy, di pertandingan-pertandingan lain di Euro kali ini juga penuh sportivitas kok. Rasanya seneng deh melihat pemandangan kaya gitu. Para pemain antar kesebelasan yang saling memberi selamat, berangkulan, bertukar kaos, gak kayak kesebelasan-kesebelasan di Indonesia yang pendukungnya sering jotos-jotosan. Intinya, gue pengen Indonesia, especially Timnas-nya bisa selalu belajar dari turnamen-turnamen besar kayak gini untuk ngebenerin kualitas persepakbolaan kita yang kayaknya gitu-gitu aja. Yah, klise banget siy omongan gue ini, tapi gue tetap berharap untuk kesuksesan tim Indonesia deh pokoknya, walaupun secara pribadi gue juga jarang ngikutin siy… Hehehe… Sekali lagi, selamat buat Spanyol, Jerman, Turki, dan Rusia. Tunjukkan performance terbaik kalian di semifinal ye… WE WANT MORE!!!! ;p

                            

anak ini sedang belajar dewasa

Setiap kali gue kembali dihadapkan dengan kenyataan, saat itulah gue sadar akan keterbatasan gue: gue belum dewasa.

Bilakah gue akan bisa berdamai dengan kenyataan itu dan menjalani hidup gue dengan tenang dengan kesadaran penuh gue tentang kenyataan itu?

Jawabannya: waktu yang akan menajwab. cuih!!!

P.S: kata Ratih, Turki kembali membuat drama, drama, drama di Euro 2008... Selamat! Anda akan bertemu Jerman di semifinal!!!!

tentang Euro lagi

Selamet ya buat Jerman... Pansernya akhirnya panas juga. Gak nyangka tau, Jerman menang. Gue kan menjagokan Portugal yang bakal ketemu Belanda di final. Tapi sekarang gak tau deh, apakah Jerman, apakah Turki, atau Kroasia... banyak kejutan niihhh...

Sjujurnya sih, gak ada tim yang benar-benar gue jagokan untuk menang. yang gue harapkan untuk menang adalah tim yang memang bener-bener layak. Perkiraan Belanda dan Portugal yang bakal ketemu di final juga bagian dari penilaian objektif gue. Belanda sekarang memang lagi bersinar-bersinarnya, sementara Portugal punya motivasi yang kuat untuk menang ditambah dengan keberadaan CR7 yang juga lagi ada di kondisi terbaik dia. Tapi, siapa sangka Portugal harus digilas sama Pansernya Jerman (bahasa Koran banget siy, gue... hehe).

Tapi, seriously, kayaknya kita emang gak bakal bisa banyak membuat tebakan di Euro tahun ini. Terlalu banyak kejutan. Soalnya bola masih bundar, bo... hehehehe. Untuk Turki vs Kroasia, gue bener-bener gak bisa membuat prediksi nih since performance Turki waktu ngelawan Ceko. Di atas kertas sih, Kroasia lebih unggul. Apalagi Kroasia punya pelatih yang OK (dan ganteng). Mas Billic. Hehehe. Tapi jangan salah, pelatih Turki terkenal dengan kekerasan hatinya. pemain-pemainnya juga. Liat aja, betapa mereka gak menyerah sama Ceko walalupun sisa waktu tinggal hitungan detik.

Ffiuhh, belum lagi Italia vs Spanyol. Huaaa... gue gak rela kalo Spanyol kalah. Gue kan pembenci Italia. Tapi sebenernya complicated si. Antara benci dan... (dan apa?). Soalnya masih ada Gianluca Zambrotta dan Luca Toni dan Gianluigi Buffon. Dilema nih... Kepercayaan diri mereka juga pasti naik setelah ngalahin Prancis. Casillas dan Villa, berjuang!!!!

drama, drama, n drama, during Euro 2008

10 hari sudah berlalu semenjak opening ceremony Euro 2008. Pada banyak yang ngikutin Euro, kan? Begitu juga dengan saya sebagai penggemar bola musiman yang heboh kalo ada kejuaraan-kejuaraan kayak Euro n World Cup doang. Selebihnya gak terlalu ngikutin. Hehehe… Nah, minggu ini perempat final Euro bakalan dimulai. Negara-negara yang dipastikan masuk antara lain Portugal yang bakal ketemu Jerman (hidup Portugal!), Turki yang bakal ketemu Kroasia (belum nentuin bakal bela siapa), Belanda (yang udah menjuarai grup C), dan Spanyol (yang dipenuhi oleh ‘suami-suami’ gue). Runner up grup C dan D bakal ditentukan dini hari besok dan lusa (Rabu n Kamis, 18 n 19 Juni).

OK, pada nonton pertandingan Rep. Ceko vs Turki yang ditayangin kemarin gak? Kalo nonton, mungkin orang-orang bakal setuju dengan gue bahwa pertandingan penentuan kemarin itu berlangsung dengan penuh drama, drama, drama. FYI, sebenarnya gue gak terlalu menjagokan siapapun di antara dua tim ini. Gue menganggap kemampuan dua tim gak jauh beda n gue Cuma berharap yang terbaik yang bakal lolos. Yah, tapi memang kecenderungannya lebih ke Ceko sih, karena kan ada Petr Cech (suami gue yang lain) di sana. Hehehe… Nah, kemarin pagi (Senin, 16 Juni) gue nonton di Fokus Euro kalo Portugal dan Turki berhasil lolos ke perempat final. Otomatis gue jadi tau kalo Ceko kalah karena skor Ceko (dan bahkan selisih gol) dengan Turki sama. Jadi pertandingan mereka bakal nentuin siapa yang lolos ke perempat final. Ya udah, gue juga gak kecewa-kecewa amat dengan hasil ini. Malamnya, gue dan partner of crime gue, Ratih, nonton siaran tunda Ceko vs Turki.

Sebelumnya Ratih sempet bilang ke gue kalo skor pertandingan itu 1-0 untuk Turki. Berdasarkan informasi itu, gue n Ratih pun menunggu-nunggu satu-satunya gol dari Turki ke gawang Ceko. Sampai pertengahan babak pertama, belum muncul juga tuh gol. Akhirnya, waktu babak pertama hampir berakhir, hebohh… karena ternyata gol bukan dari pemain Turki, tapi Ceko. Sambil terbengong-bengong, gue kembali nanya ke Ratih tentang skor akhir pertandingan ini dan akhirnya terbongkarlah fakta bahwa Ratih Cuma ngasal doing nyebutin skor 1-0. Sambil masih tertegun-tegun, kita lanjut nonton.

Ketika babak kedua dimulai, kelihatan kalo Turki mulai mendominasi. Rupanya ketinggalan satu poin gak membuat nyali mereka turun, justru sebaliknya. Alhasil, pertandingan jadi tambah seru n keras. Kartu kuning mulai bertebaran dimana-mana. Darah, keringat, air mata (lebai). Tapi, serius… mereka berdarah-darah. Ada 2 pemain yang kepalanya di perban. Sepanjang pertandingan Ratih n gue terus menerus mengomentari pertandingan yang penuh dengan drama drama drama ini. Belum lagi pelatih Turki yang ngomel n marah-marah mulu. Tapi ternyata, drama yang sesungguhnya belum dimulai, saudara. Kalo gak salah, di menit ke 70, Ceko kembali menambah gol dan seolah-olah memastikan kemenangan mereka ke perempat final. Gue dan Ratih kembali terbengong-bengong dan Ratih sempat mengkonfirmasi gue, apakah memang Turki yang menang di pertandingan ini, dan gue membenarkan, walaupun gue gak tau berapa skornya. Tapi, untuk menang berarti skor akhir paling gak harus 3-2, sementara waktu yang tersisa tinggal 20 menit untuk mengejar ketinggalan. Di sinilah drama dimulai.

Di hampir 10 menit terakhir, Arda Turan yang ganteng dari Turki melesakkan golnya ke gawang Petr Cech sehingga kedudukan berubah 2-1. Ternyata Turki semakin bersemangat! Sebagai muslim yang saleh, mereka terus berikhtiar dan berdoa kepada Alloh SWT sampai akhirnya usaha mereka itu membuahkan hasil. Mas Nihat Kahveci menyarangkan dua gol berturut-turut ke gawang Ceko. Keren, Mas Nihat!!!! Allohu Akbar!! Tapi kasian banget nih ama suami gue, Petr Cech. Dia benar-benar melakukan kesalahan fatal ketika berusaha mengantisipasi tendangan Nihat ke gawangnya. Bola itu udah berhasil ia tangkap, tapi… tergelincir dan akhirnya, tanpa usaha yang berarti-Cuma tinggal di dorong dikit-masuk deh tuh bola ke gawang karena Cech juga udah gak bisa prepare. Ohh, Cech… kasian banget siiii kamu….

Setelah itu, apakah drama berakhir di sini setelah Turki memastikan kemenangannya?? Tidak. Masuk additional time, kiper Turki, Volkan Demirel dihadiahi kartu merah akibat tindakan agresifnya. Bahkan, pemain Turki yang gak lagi tanding nih, di bangku cadangan, dapet kartu kuning juga gara-gara protes. Adegan paling lucu yang bikin gue n Ratih ngakak adalah ketika gelandang Turki, Tuncay terpaksa jadi kiper pengganti (OMG, ngebayanginnya aja masih bikin gue pengen ketawa). Keliatan banget dia panik, tapi juga pasrah ketika ditunjuk temen-temen satu timnya. Dia sempat menengadahkan tangannya ke atas, mungkin berdoa biar dapet pertolongan. Untungnya, Tuncay gak harus lama-lama jadi kiper. Dua menit kemudian, wasit meniup peluit yang menandakan Turki boleh merayakan kemenangan n keberhasilannya masuk perempat final. Alhamdulillah, sebagai muslim, gue pastinya ngerasa bangga dengan hasil ini. Tapi gue harus mengakui bahwa gue juga ngerasa kasian banget ama Ceko, terutama Petr Cech. Karena sebenarnya penampilan dia bagus banget di pertandingan ini. Dia berkali-kali bisa menyelamatkan gawangnya dari kebobolan. Tapi, mau gimana lagi, kekuatan doa dari Istanbul menurunkan keajaiban buat Turki. Hehe, begitulah sepenggalan drama yang terjadi di perhelatan Euro… Trims udah baca ulasan pertandingan penuh drama yang gue bawakan juga dengan penuh drama ini. Hahahaha!! Kita nantikan drama-drama lain di pertandingan-pertandingan Euro 2008 berikutnya.

Referensi: Koran Tempo edisi 17 Juni 2008 & Euro 2008 Official Site (www.euro2008.uefa.com)